traslate

English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Latest Posts

Sunday 31 January 2016

Kumpulan Jurnal Gratis

Hai para mahasiwa, eh mahasiswa.. bagai mana keadaan keuangan kalian dan bagaimana keadaan kesehatan.. naha hari ini saya akan posting tentang jurnal gratisan.. sebenarnya tinggal cari sih tapi saya memudahkan pencarian ini..nih Jurnal nya..

Tree Seed Manageman http://adf.ly/1WGhxR
   Teknik Pembibitan Tanaman http://adf.ly/1WGjhq
Teknik Budidaya Tanaman http://adf.ly/1WGk3o
   Konsep Revitalisasi Sistem Perbenihan Tanaman http://adf.ly/1WGkuO
read more...

Wednesday 7 April 2010

Gejala Vtrifikas Dalam Kultur Jaringan

Dalam kultur jaringan sering sekali mendapat kendala yang mungkin kendala itu tidak mudah untuk kita atasi, hal ini dapat dipengaruhi oleh banyak factor baik itu dari luar, dari dalam atau eksplan tersebut. Hal ini kerap di temui oleh seniman tanaman khususnya kultur jaringan. Misalnya kendala vitrifikasi.
Menurut  Untung, 2004 Vitrifikasi adalah suatu istilah problem dalam kultur jaringan yang ditandai dengan :
- Munculnya pertumbuhan dan peekembangan yang tidak normal.
- Tanaman  yang dihasilkan pendek-pendek atau kerdil, seringkali tidak mempunyai internodus
- Pertumbuhan batang cenderung kearah pertambahan diameter
- Daunya memiliki kecenderungan melebar pada bagian pangka, akhirnya helaian berbentuk seperti panah.
- Daun memiliki klorofil yang sedikit di bandingan denga yang normal.
- Hal yang penting tangkai dan helaiyan daun seperti mengeluarkan air tembus cahaya dan rapuh.
- Tanaman utuhnya  menjadi sangat turgescent
- Pada daunnya tidak memiliki jaringan palisade

Viltrifikasi terjadi akabat kegagalan atau adanya hambatan pada proses pembentukan dinding sel (jaringan parenkim) dan hambatan pada proses lignin.
Beberapa cara untuk  mengatasi adanya vitrifikasi telah dilakukan misalnya: menaikan jumlah agar dan sukrosa, menambahkan pectin kedalam media, memindahkan kultur pada suhu 4 derajat Celsius selama 15 har, menurunkan pH menjadi 4. Penggunaan senyawa anhydrous berupa CaSO4 pada desicator, penggunaan media semi padat dll.

read more...

Friday 19 March 2010

Kultur Jaringan di Balik Camera

Inilah gambar tanaman krisan dengan umur 4 minggu setelah sub kultur.. saya mencoba untuk mengabadikannya di bawah sinar lampu yang berwarna kuning.

























Ke 4 foto yang berada di atas dan disebelah kanan ini adalah foto tanaman krisan dengan pembudidayaan kultur jarigan, saya mencoba untuk mengabadiakanya. foto ini diambil pada saat saya melakukan magang di salah satu Balai Penelitian di Malang Jawa Timur.




















Ini adalah planlet tanaman pisang namun tanaman ini mengalami browning sehingga terlihat hitam. namun tataletak yang rapi membuat saya untuk mengambil gambarnya.









Ini adalah tanaman antorium corong yang dikultur jaringankan.. tanaman ini adalah tanaman yang di teliti oleh peneliti di Balai Penelitian tersebut.





Ini adalah tanaman kentang yang dibuat kultur jaringan. tanaman ini negeluarkan umbi atau kentangnya di bagian akar sehingga saya tertarik untuk menggambilnya. mungkin saya pertamakali melihat umbi kentang yang tumbuh di dalam botol.

read more...

Aklimatisasi Krisan

Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.
Perubahan kondisi lingkungan yang drastis, dari lingkungan terkontrol ke tidak terkontrol, dari suhu relatif stabil ke suhu lingkungan yang fluktuatif, dari kelembapan tinggi ke rendah dan fluktuatif, dan dari cahaya rendah ke cahaya tinggi pada umumnya menyebabkan tanaman mudah mengalami cekaman atau stres, kehilangan air, layu, dan mati Oleh karena itu, proses aklimatisasi perlu dilakukan secara bertahap.

Tanaman krisan pada kultur jaringan ini biasanya dijadikan tanaman induk dan dapat diperbanyak dengan menggunakan stek pada pucuk. Akan tetapi jika tanaman krisan ini terlalu lama distek maka akan menimbulkan turunya kualitas regenerasi. Selain itu tanaman induk yang terlalu lama di stek biasanya akan menimbulkan sumber hama dan penyakit karena pertumbuhannya yang bercabang dan mengumpul sehingga cahaya tidak dapat masuk kedalam daun dan hama dan penyakit biasanya bersarang di tempat itu, selain itu  dapat menimbulkan reaksi gelap yang dapat merugikan. Menurut Iknas (2008), reaksi gelap ini dapat menimbulkan tanaman ke fase generatif, jadi bibit yang seharusnya di fase vegetatif menjadi fase generatif sehingga tanaman menjadi berbunga karena tanaman induk kan di jadikan bibit maka akan merugikan
Reaksi gelap adalah reaksi pembentukan gula dari CO2 yang terjadi di stroma. Berbeda dengan reaksi terang, reaksi gelap atau reaksi tidak bergantung cahaya bisa terjadi pada saat siang dan malam, namun pada siang hari laju reaksi gelap tentu lebih rendah dari laju reaksi terang. Reakasi glap ini memanfaatkan ATP dan NADPH dari reaksi terang yaitu fotosintesis untuk mereduksi CO2 menjadi gula.


Gambar . Silus Kelvin (Raksi Gelap)


Tetap terjadi pada saat ada cahaya/ siang hari. Reaksi gelap ini akan hilang dengan dengan sendirinya apabila tanaman tersebut dikondisikan seperti bibit pada umumnya, akan tetapi reaksi gelap ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk hilang.
Sebelum penanaman pada tunas-tunas yang telah di stek, batang bawah yang terdapat luka di olesi zat perangsanng akar. Zat perangsang akar ini dapat menggunaka IBA atau Rutoon.
Pemotongan pada tanaman ini di lakukan sampai  ke generasi G3 atau G4 hal ini agar dapat menekan terjadinya generasi yang kurang berkualitas sehingga jika sampai ke G3 atau G4 maka bibit harus segera siap di tanam di lapangan (Iknas 2008).


Gambar. Tanman Krisan Yang Telah di Stek dan Ditanam
read more...

Cara Aklimatisasi Krisan dan Usaha di Lapang

Untuk proses aklimatisasi pada tanaman krisan, planlet yang berada didalam botol di ditempatkan dalam ruangan dengan kondisi  lingkungan luar selama 1-2 minggu dengan bantuan paranet  dengan  cahaya masuk 60%, hal ini untuk mengkondisikan tanaman pada kondisi lapangan serta untuk menekan respirasi yang berlebihan pada tanaman itu sendiri karena lingkungan iklim mikro di dalam botol masih dapat digunakan oleh tanaman tersebut.
Setelah tanaman tersebut memiliki daun yang hijau seperti tanaman yang berada di lapangan tanaman bisa di aklimatisai dengan menggunakan fungisida dan baktersida atau menggunakan baiclean atau sama sekali tidak menggunakan apa-apa, jadi bisa langsung tanam ke dalam media, jika media tersebut steril bebas dari mikroorganisme.
Untuk media yang digunakan adalah arang sekam  yang telah disterilisasi namun arang sekam ini dapat di beli ke para pedagang. Arang sekam ini sangat baik sekali terhadap proses penyemaian pada induk yang akan diperbanyak, karena pH yang netral, remah, dan dapat mengikat air dengan cukup baik, sehingga udara bisa masuk kedalam media dan akar sehingga dapat menyerap udara dengan baik. Pemakaian arang sekam harus diganti jika sudah terdapat nematoda-nematoda serta mikroorganisme yang dapat menggangu proses pertumbuhan. Setelah itu tanaman dapat di stek pada umur 14 hari dan di berikan penutup plastic bening.
Stek tanman induk sangat penting sekali agar dapat menghasilkan bibit yang unggul, seragam, dan berkualitas. Untuk stek tanman induk sendiri terdapat metode yang dapat mempertahankan kualitas tanaman sehingga tanman bias di perbanyak sesuai dengan keinginan dengan sama seperti induknya. Cara-cara stek sebagai berikut:
a. Krisan yang berumul 14 hari di perkirakan sudah mempunyai 7 helai daun. Tanman induk ini dapat di stek namun ditinggalkan empat daun di bawahnya, hal ini dilakukan karena untuk memacu tunas lateral tumbuh kembali karena setiap daun memiliki cadangan makanan yang dapat menumbuhkan tunas lateral tersebut dan jika daun tersebut tidak ada atau di sisakan dua maka proses penumbuhan tunas lateral akan sulit karena  cadangan makanan pada daun yang sedikit akan disebarkan kesetiap organ tumbuhan  sehingga penyuplaian cadangan makanan akan sedikit.
b. Setelah 14 hari kembali tanamn krisan yang telah dipotong dan menyisakan empat buah helai daun dan di setiapiak daun kan tumbuh tunas lateral yang seragam. Namun pertumbuhan tunas lateral atas akan lebbih dulu berkembang dibandingkan dengan yang bawah. Pemotongan dapat dilakuna ke pada dua tanaman yang timbul  pada tunas lateral namun kembali sisakan dua daun untuk menumbuhkan kembali tunas lateral. pemotongan ini dilakukan pada tunas lateral bawah.
              


Gambar. Stek Awal Tanaman Induk Krisan




Gambar. Timbulnya Tanaman Baru pada Ketiak Daun


c. Tanaman yang baru akan muncul pada ketiak daun yang telah diambil bagian atas tanamannya. Pemotongan ini dilakukan terus menerus selama 5 bulan, namun seringkali tanaman induk ini  dapat bertahan sampai satu tahun jika kualitasnya masih baik.




Gambar.  Terdapat Tanaman Baru Yang Tumbuh pada Ketiak Daun
read more...

Aklimatisasi Anggrek

Aklimatisasi adalah masa adaptasi tanaman hasil pembiakan pada kultur jaringan yang semula kondisinya terkendali kemudian berubah pada kondisi lapangan yang kondisinya tidak terkendali lagi, disamping itu tanaman juga harus mengubah pola hidupnya dari tanaman heterotrop ke tanama autotrop.
Dalam melakukan aklimatisasi pengelompokan plantlet hasil seleksi. Plantlet dikelompokan berdasarkan ukurannya untuk memperoleh bibit yang seragam. Sebelum ditanam plantlet sebaiknya diseleksi dulu berdasarkan kelengkapan organ, warna, hekeran pertumbuhan, dan ukuran. Plantlet yang baik adalah yang organnya lengkap, mempunyai pucuk dan akar, warna pucuknya hijau mantap artinya tidak tembus pandang dan pertumbuhan akar bagus.
Menurut Trubus (2005) ciri-ciri bibit yang berkulitas baik yaitu planlet tampak sehat dan tidak berjamur, ukuran planlet seragam, berdaun hijau segar, dan tidak ada yang menguning. Selain itu planlet tumbuh normal, tidak kerdil, komposisi daun dan akar seimbang, pseudobulb atau umbi semu mulai tampak dan sebagian kecil telah mengeluarkan tunas baru, serta memiliki jumlah akar serabut 3 – 4 akar dengan panjang 1,5 – 2,5 cm. Prosedur pembiakan dengan kultur in vitro baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi. Aklimatisasi bertujuan untuk mempersiapkan planlet agar siap ditanam di lapangan. Tahap aklimatisasi mutlak dilakukan pada tanaman hasil perbanyakan secara in vitro karena planlet akan mengalami perubahan fisiologis yang disebabkan oleh faktor lingkungan. Hal ini bisa dipahami karena pembiakan in vitro (dalam botol) semua faktor lingkungan terkontrol sedangkan di lapangan faktor lingkungan sulit terkontrol (Herawan, 2006; Yusnita, 2004).
Di dalam botol kultur, kelembapan hampir selalu 100%. Aklimatisasi merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, rumah plastik, rumah bibit, dan lapangan sangat jauh berbeda. Kondisi di luar botol berkelembapan nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik, dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi di dalam botol.planlet atau tunas mikro lebih bersifat heterotrofik karena sudah terbiasa tumbuh dalam kondisi berkelembaban sangat tinggi, aseptik, serta suplai hara mineral dan sumber energi berkecukupan.
Disamping itu, tanaman tersebut memperlihhatkan gejala ketidaknormalan, seperti bersifat sangat sukulen, lapisan kutikula tipis, dan jaringan vasikulernya tidak berkembang sempurna, morfologi daun abnormal dengan tidak berfungsinya stomata sebagaimana mestinya, struktur mesofil berubah, dan aktivitas fotosintesis sangat rendah.
Aklimatisasi dilakukan dengan mengkondisikan planlet dalam media pengakaran ex vitro. Media yang kita gunakan dalam proses aklimatisasi pada anggrek  adalah pakis dan arang kayu / genting. Selain itu juga kelembapan tempat aklimatisasi di atur tetap tinggi pada minggu pertama, menurun bertahap pada minggu–minggu berikutnya hingga tumbuh akar baru dari planlet. Cahaya diatur dari intensitas rendah, meningkat secara bertahap. Sebaiknya suhu tempat  aklimatisasi dijaga agar tidak melebihi 32oC.
Setelah proses aklimatisasi anggrek diperlakukan sebagai berikut:
a. Compotting
Ukuran pot yang digunakan untuk kompot berdiameter sekitar 7 cm pada pot ini diisi bibit sekitar 30 bibit anggrek atau tergantung ukuran bibitnya. Pertama-tama pot yang akan digunakan diisi dengan sterofoam sekitar 1/3 bagian, kemudian pakis cacah lalu bibit anggrek ditata dengan rapi..

b. Seedling (Penanaman ke Single Pot)
Seedling adalah proses memindahkan bibit dari kompot ke pot individu. Seedling dilakukan pada saat bibit berusia 5 bulan. Apabila tanaman terlambat diseedling dapat mengakibatkan bibit dalam kompot kompetisi sehingga penyerapan hara terhalang dan akar beresiko menjadi rusak.  Biasanya seedling dilakukan diletakkan di dalam gelas bekas air mineral. Media yang digunakan untuk setiap anggrek berbeda-beda tergantung pada kebutuhan airnya. Media untuk Dendrobium adalah sphagnum yang dibalutkan pada akar tanaman, kemudian tanaman ditanam dalam gelas plastic yang telah diisi sterofoam dan pakis cacah. Biasanya juga ditanam pada media pakis batangan yang kemudian diikat menggunakan tali raffia. Ciri-ciri dari bibit yang siap di seedling yaitu ditandai dengan perakaran yang tumbuh lebih kuat dan daun daun tampak sudah keluar dari bibir pot.

c. Overpot (Pemindahan Bibit)
Overpot dilakukan ketika tanaman dalam single pot memenuhi syarat untuk dipindahkan, yaitu ditandai denga banyaknya umbi. Tanamn dipindahkan ke pot yang lebih besar. Biasanya dilakukan setelah seedling berumur 2-3 bulan. Media yang digunakan adalah potongan pakis batangan yang disusun secara teratur atau satu per satu dan diikat denga tali raffia.

d. Repotting
Repotting atau pengepotan ulang adalah pemindahan tanaman tanaman dari pot yang lama ke pot yang baru. Repotting dilakukan jika anggrek pada pot seedling telah tumbuh besar dan memenuhi popt plastik. Pengepotan ulang dilakukan dengan alasan media dalam pot seedling telah lapuk dan hancur sehingga ph menjadi rendah (asam) dan rentan terhadap serangan penyakit (Parnata, 2005). Selain itu juga untuk mengantisipasi media yang telah kehabisan unsur hara. Media untuk repotting juga berbeda untuk setiap jenis anggrek tergantung kebutuhan airnya.

read more...

Cara Aklimatisasi Anggrek Rumahan

Aklimatisasi Anggrek Rumahan
Aklimatisasi adalah proses pengkondisian planlet atau tunas mikro (jika pengakaran dilakukan secara ex vitro) di lingkungan baru yang aseptik di luar botol, dengan media tanah, atau pakis sehingga planlet dapat bertahan dan terus menjadi benih yang siap ditanam di lapangan (Yusnita, 2004).
1. Alat dan bahan
 a. Pot
 b. Kawat ujungnya bentuk "U"
 c. Bayclean
 d. Air mengalir
 e. Label
 f. Planlet Dendrobium
 g. Media Pakis
 h. Sterofoam
 i. Bayclean 10%.

2. Langkah Kerja
 a. Proses aklimatisasi dimulai dari penyiapan alat dan bahan yang akan digunakan yaitu Planlet siap diaklimatisasi pada umur        7 bulan setelah transplanting atau planlet sudah memenuhi botol.
 b. Botol diisi dengan air bersih kemudian dikocok untuk melarutakan media agar-agar yang masih tersisa pada botol. Botol dikocok secara perlahan untuk membersihkan agar dan melonggarkan perakaran sehingga untuk mudah dikeluarkan.


Gambar. Pengambilan Tanaman Dalam Botol

3.Planlet dikeluarkan secara perlahan dengan cara ditarik menggunakan kawat ujungnya bentuk "U".


Gambar. Pembersihan Tanaman dari Agar


4. Akar dibersihkan dari sisa agar yang menempel kemudian direndam dalam larutan Baycelan 10 % selama 15 menit untuk menghindari tumbuhnnya jamur atau bakteri yang dapat membuat busuk akar atau daun.
5. Planlet kemudian ditiriskan pada sebuah koran hingga mengering. Media campuran sterofoam dan pakis.
6. Planlet kemudian ditanam secara merata 30 tanaman/ pot. Kompot kemudian ditempatkan ditempat teduh dan harus mendapatkan angin bebas.





Gambar. Tanaman yang Sudah Dipindahkan ke Pot (Kompot)

7. Setelah benih terlihat sehat (ditandai dengan daun kaku dan muncul akar baru) segera dilakukan pemupukan dengan pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi atu dengan penambahan B1 seminggu sekali dan fungisida seminggu 2 kali serta penyiraman sehari sekali pada pagi hari.

read more...

Kalus

Kalus adalah kumpulan sel-sel yang terbentuk dari sel-sel parenkhim yang membelah secara terus menerus dan tidak terorganisir. Di alam (in vivo) fenomena pembentukan kalus terjadi pada penyakit tumor tanaman yang disebabkan infeksi oleh mikroorganisme bakteri Agrobacterium tumefaciens pada bagian tanaman yang terluka akibat gigitan serangga atau nematoda. Kalus yang diinisiasi dan dipelihara dalam media secara in vitro dapat digunakan untuk tujuan mempelajari pertumbuhan dan perkembangan tanaman atau dieksploitasi untuk tujuan perbanyakan tanaman. Keberhasilan induksi kalus ditentukan oleh:
• pemilihan bahan tanaman atau eksplan
• media dan kondisi kultur yang cocok

Kalus dapat diinisiasi dari hampir semua bagian tanaman, tetapi organ dan jenis tanaman yang berbeda akan menunjukkan kecepatan pembelahan sel yang berbeda pula. Embrio zigotik muda dalam biji tanaman, hipkotil, kotiledon, daun dan batang muda adalah contoh-contoh eksplan yang sangat respon untuk pembentukan kalus.

Pembelahan sel dari jaringan eksplan yang membentuk kalus biasanya hanya terjadi dari bagian lapisan periphery saja. Menurut Yeoman (1970), hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
• ketersediaan O2 yang lebih tinggi
• keluarnya gas CO2
• ketersediaan hara yang lebih banyak
• penguapan yang lebih cepat dari penghambat yang bersifat folatik
• cahaya
Jaringan dari eksplan batang, akar atau daun terdiri dari berbagai macam sel sehingga akan menghasilkan kalus yang heterogenous. Bahkan jaringan yang tampak seragam secara histologi seperti pembuluh tembakau dan akar ercis menghasilkan kalus dengan sel dengan DNA yang berbeda karena tingkat ploidi yang berbeda (Yeoman, 1970; Torey, 1961 dalam Gunawan, 1988). Heterogenitas dari sel-sel yang membentuk kalus selain berasal dari materi asalnya juga dapat terjadi karena masa kultur yang panjang melalui subkultur yang berulang-ulang. Menurut Gunawan (1988), perubahan dapat terjadi karena: (i) aberasi kromosom, (ii) mutasi gen, (iii) endoreduplikasi yang menghasilkan poliploidi, (iv) transposisi urutan DNA, (v) amplifikasi gen atau (vi) hiangnya satu gen.


Gambar Kalus dari Penelitian Ragapadmi Purnamaningsih 2004 

Agar kalus dapat dijaga pertumbuhannya dan dapat diperbanyak secara berkesinambungan, maka perlu dipindahkan secara teratur pada media baru dalam jangka waktu terentu (subkultur). Apabila kalus disubkultur pada media agar yang dilakukan secara regular, maka akan menunjukkan fase pertumbuhan kurva S (sigmoid). Phillips et al., (1995) membagi lima fase pertumbuhan kalus, yaitu:
• Fase lag, dimana sel-sel mulai membelah.
• Fase eksponensial, dimana laju pembelahan sel berada pada puncaknya.
• Fase linear, dimana pembelahan sel mengalami perlambatan tetapi laju ekspansi sel meningkat.
• Fase deselerasi, dimana laju pembelahan dan pemanjangan sel menurun.
• Fase stationer, dimana jumlah dan ukuran sel tetap.


Menurut Thorpe (1982), kalus yang dipelihara dalam kultur sering mengalami perubahan sejalan dengan waktu, antara lain karena:
• hilangnya hormon pertumbuhan yang diperlukan
• hilangnya potensi morfogenetik
• perubahan tekstur morfologis dari jaringan (jaringan yang ”friable”)

Semua perubahan tersebut akan menurunkan daya regenerasi jaringan. Dalam beberapa kasus kehilangan daya morfogenetik dari kalus tersebut dapat dikembalikan dengan cara memindahkan kalus pada media yang mengandung sitokinin pada konsentrasi tinggi dalam periode kultur yang singkat atau melakukan subkultur yang berulang pada media untuk pembentukan tunas (Rice, et al., 1978).


Gambar Kalus dari Penelitian Ragapadmi Purnamaningsih 2004
read more...

Browning

Biasanya kita tidak menyadarinya bahwa buah-buahan seperti jeruk, apel, mangga, pear, pisang, dan sebagainya jika di belah akan dan di diamkan beberapa menit akan tampak warna coklat atau kehitam hitaman. Itu adalah suatu fenomena pencoklatan  atau yang dikenal dengan nama browning. Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman atau eksplan pada kultur jaringan. Peristiwa pencoklatan adalah pristiwa alamiah biasa terjadi pada system biologi, suatu proses perubahan adaptif bagian tanaman akibat adanya pengaruh fisik dan biokimia (memar, pengupasan, pemotongan, serangan penyakit, atau kondisi yang tidak normal). Bias juga merupakan gejala alamiah dari proses penuaan,
Secara umum pencoklatan (browning or blacking) berdasarkan prosesnya, dapat dikelompokan menjadi 2 macam (pengelompokan ini dapat  digunakan pada bidang teknologi pangan dan gizi), yaitu:
1.Pencoklatan secara enzimatik. (fenolase)
2.Pencoklatan secara non enzimatik. Pada klompokan ini dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu:
  a.Pencoklatan Maillard
  b.Pencoklatabn karamellard
  c.Pencoklatan oksidasi asam askorbat.

Browning terjadi akaibat enzimatik ini adalah  enzim. Enzim yang berperan dalam proses ini terjadinya browning  adalah polifenol oksidase, suatu enzim kompleks. Enzim komplek tersebut diantaranya adalah fenol hidroksilase, kresolase dan katekolase. Untuk terjadinya reaksi pencoklatan dikatalis oleh enzim tersebut, maka selain ada subtrat juga harus ada tersedia gugus prostestik Cu++ dan oksigen sebagai asektor hydrogen. Kebanyakan reaksi pencoklatan dasar reaksi pembentukan melalim berwarna coklat reaksi pertama diduga sebagi hidrolisasi sekunder O-quinon atau karena kelebihan O-difenol.

Pada proses pencoklatan enzimatis, substrat yang umunya  berperan  adalah:
1. P-difenol (quinol)
2. Monofenol (L-tirosin, p-kresol)
3. Flavonoid (querssetin, rutin)
4. Tannin (kateein, leukoantosianin)
5. Katekol, asam kafeat, asam protokatekoat, asam klogorenat.
Dari substrat-substra diatas, monofenol sifatnya lambat reaksinya sebab sebelum oksidasi menjadi quinon , zat ini harus mengalami hidroksilasi berulang.

Pencoklatan juga dapat terjadi karena rangsangan kimia, prinsipnya yaitu pada lingkunagan eksplan tersedia bahan-bahan kimia yang mendorong pembentukan senyawa phenol. Sebagai missal auksin pada eksplan daun muda klapa sawit dapat mendapat mendorong terjadinya pencoklatan. Salah satu bahan kimia yang menyebabkan pencoklatan adalah enzim, yaitu enzim yang mendorong proses terjadinya oksidasi phenol (enzimya: phenol oksidase)
Untuk mengatasi proses terjadinya pencoklatan  dapat dilakuakn  dengan berbagai cara, misalnya:
1. Mengeluarkan senyawa fenol, yaitu dengan jalan membilas terus  menerus dengan air atau dengan aquadest., melakukan subkult berulang ulang, mengabsorsi dengan arang aktif, mengabsorsi dengan polyvinylpirolidone (PVP).
2. Memodifikasi potensial redok media
3. Mengurangi agen yang menyebabkan terjadinya pencoklatan, yang paling umum biasanya yaitu dengan cara mengurangi jumlah karbohidrat mediu, mengurangi atau memindahkan kontak dengan oksigen.
4. Menghambat dengan enzim phenol oksidase, untuk ini dapat digunakan ‘chelating agents’. EDTA telah terbukti dapat menghambat kerja enzim  polyphenol oksidase.
5. Pengatur pH rendah, ini dapat dilakukan karena enzim polyphenol oksidase optimalnya pada pH 6.5 dan menurun seirama dengan turunya pH.
6. Penggunaan ruanggelap, karena kerja enzim polyphenol oksidase.
7. Efektifnya dipengaruhi oleh cahaya. Disarankan penggunaan ruanggelap  minimal 14 hari setelah penanaman eksplan  (Untung Santoso, 2001) .

Namun pencoklatan tersebut juga tidak semuanya  sebagai zat toksik yang dapat  penghambat pertumbuhan. Namun dalam jurna Oktavia  yang berjudul “Embriogenesis Somatik Langsung Dan Regenerasi Planlet Kopi Arabika (Coffea Arabica) Dari Berbagai Eksplan” bahwa   Figueora  et al., (2001) pencokelatan pada  jaringan yang disebabkan oleh akumulasi  senyawa fenolik yang berlebihan, penting  untuk proses embriogenesis somatik pada  tanaman kopi. Kemungkinan senyawa  fenolik berperan sebagai signal untuk   induksi diferensiasi. Kemungkinan lain,  senyawa ini juga berperan sebagai pengkelat  yang menginaktifkan senyawa-senyawa  penghambat yang terdapat dalam kultur  embriogenik.
Hal ini memerlukan kajian lebih lajut tentang fenomena unik ini karena mungkin akan berguna bagi ilmu-ilmu yang lainya.

Gambar pencoklatan



read more...

Friday 5 March 2010

Kultur Jaringan Krisan

Menenal Tanaman Krisan
Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain Seruni atau Bunga emas (Golden Flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning berasal dari dataran Cina, dikenal dengan Chrysanthenum indicm (kuning), C. morifolium (ungu dan pink) dan C. daisy (bulat, ponpon). Di Jepang abad ke-4 mulai membudidayakan krisan, dan tahun 797 bunga krisan djadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Tanaman krisan dari Cina dan Jepang menyebar  ke kawasan Eropa dan Perancis tahun 1795. Tahun 1808 Mr. Colvil dari Chelsa mengembangkan 8 varietas krisan di Inggris. Jenis atau varietas krisan modern diduga mulai ditemukan pada abad ke-17. Krisan masuk ke Indonesia pada tahun 1800. Sejak tahun 1940, krisan dikembangkan secara komersial.

Klasifikasi botani tanaman hias krisan adalah sebagai berikut: Divisi: Spermathophyta
Sub Divisi : Angiospermae Famili : Asteraceae
Genus : Chrysanthemum Species : C. morifolium Ramat, C. indicum, C. daisy dll.

Jenis dan varietas tanaman krisan di Indonesia umumnya hibrida berasal dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Krisan yang ditanam di Indonesia terdiri atas: a) Krisan lokal (krisan kuno) Berasal dari luar negri, tetapi telah lama dan beradaptasi di Indoenesia maka dianggap sebagai krisan lokal. Ciri-cirinya antara lain sifat hidup di hari netral dan siklus hidup antara 7-12 bulan dalam satu kali penanaman. Contoh C. maximum berbunga kuning banyak ditanam di Lembang dan berbunga putih di Cipanas (Cianjur). b) Krisan introduksi (krisan modern atau krisan hibrida) Hidupnya berhari pendek dan bersifat sebagai tanaman annual. Contoh krisan ini adalah C. indicum hybr. Dark Flamingo, C. i.hybr. Dolaroid,C. i. Hybr. Indianapolis (berbunga kuning) Cossa, Clingo, Fleyer (berbunga putih), Alexandra Van Zaal (berbunga merah) dan Pink Pingpong (berbunga pink). c) Krisan produk Indonesia Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas telah melepas varietas krisan buatan Indonesia yaitu varietas Balithi 27.108, 13.97, 27.177, 28.7 dan 30.13A

Kegunaan tanaman krisan yang utama adalah sebagai bunga hias. Manfaat lain adalah sebagai tumbuhan obat tradisional dan penghasil racun serangga. Sebagai bunga hias, krisan di Indonesia digunakan sebagai: a) Bunga pot Ditandai dengan sosok tanaman kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau wadah lainnya. Contoh krisan mini (diameter bunga kecil) ini adalah varietas Lilac Cindy (bunga warna ping keungu-unguan), Pearl Cindy (putih kemerah-merahan), White Cindy (putih dengan tengahnya putih kehijau-hijauan), Applause (kuning cerah), Yellow Mandalay (semuanya dari Belanda).Krisan introduksi berbunga besar banyak ditanam sebagai bunga pot, terdapat 12 varitas krisan pot di Indonesia, yang terbanyak ditanam adalah varietas Delano (ungu), Rage (merah) dan Time (kuning). b) Bunga potong Ditandai dengan sosok bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang, ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong. Contoh bunga potong amat banyak antara lain Inga, Improved funshine, Brides, Green peas, Great verhagen, Puma, Reagen, Cheetah, Klondike dll. Daerah sentra produsen krisan antara lain: Cipanas, Cisarua, Sukabumi, Lembang (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), Brastagi (Sumatera Utara).

Tanaman krisan membutuhkan air yang memadai, tetapi tidak tahan terhadap terpaan air hujan. Oleh karena itu untuk daerah yang curah hujannya tinggi, penanaman dilakukan di dalam bangunan rumah plastik. 2) Untuk pembungaan membutuhkan cahaya yang lebih lama yaitu dengan bantuan cahaya dari lampu TL dan lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara jam 22.30–01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 m2 dan lampu dipasang setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Periode pemasangan lampu dilakukan sampai fase vegetatif (2-8 minggu) untuk mendorong pembentukan bunga. 3) Suhu udara terbaik untukdaerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20-26 derajat C. Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17-30 derajat C. 4) Tanaman krisan membutuhkan kelembaban yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit, setek diperlukan 90-95%. Tanaman muda sampai dewasa antara 70- 80%, diimbangi dengan sirkulasi udara yang memadai. 5) Kadar CO2 di alam sekitar 3000 ppm. Kadar CO2 yang ideal untuk memacu fotosistesa antara 600-900 ppm. Pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup, seperti rumah plastik, greenhouse, dapat ditambahkan CO2, hingga mencapai kadar yang dianjurkan.

Perbanyak Dengan Kultur Jaringan
Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ , serta menumbuhkannya dalam keadaan aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali.

Tujuan kegiatan kultur jaringan adalah perbanyakan masal tanaman yang biasanya sangat lambat dengan metoda konvensional dalam jumlah yang besar dalam waktu yang singkat, selain itu diperoleh tanaman yang bebas virus, membantu pemulian tanaman untuk mempercepat pencapaian tujuan penelitian pada tanaman yang biasa diperbanyak secara vegetatif

Langkah-langkah Kultur Jaringan Pada Krisan
Pengambilan eksplan atau sumber eksplan krisan berupa pucuk dan nodus berasal dari tanaman induk krisan di rumah kaca perbenihan Balithi Segunung dan planlet di laboratorium kultur jaringan Balithi Segunung. Pembuatan Media MS Media yang digunakan untuk tanaman krisan di Balithi Segunung adalah media induksi tunas dan media perbanyakan. Komposisi media yang digunakan untuk induksi tunas adalah½ MS + 0.5 IAA komposisi media yang digunakan untuk perbanyakan adalah½ MS + 0.1 IAA Menyiapkan Eksplan Dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan eksplan merupakan factor penting penentu keberhasilan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan sebagai bahan kultur adalah jenis tanaman, bagian tanaman yang digunakan, morfologi permukaan, lingkungan tumbuhnya, kondisi tanaman, dan musim waktu mengambilnya. Umumnya bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah jaringan muda yang sedang aktif karena mempunyai regenerasi yang tinggi.

Eksplan yang digunakan pada tanaman krisan adalah nodus karena untuk menginduks tunas aksilar. Kultur Aseptik Krisan Sterilisasi Sterilisasi merupakan kegiatan untuk menghilangkan kontaminan organisme yang menempel di permukaan eksplan. Tujuan utama tahap ini adalah mengusahakan kultur yang aseptik dan aksenik. Aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan, sedangkan aseptic berarti bebas dari mikroorganisme.

Pemilihan Dan Penyipan Tanaman Induk
Sebelum melakukan kultur jaringan untuk suatu tanaman kegiatan pertama harus dilakukan adalah memilih tanaman induk yang hendak diperbanya. Seleksi untuk mendapatkan klon-klon yang dikehendaki. Klon yang mempunyai sifat beda, unik, stabil dan seragam kemudian dijadikan tanaman induk tunggal dan sebagai tanaman donor (bahan eksplan) untuk perbanyakan secara in vitro. Planlet (tanaman) hasil dari perbanyakan in vitro kemudian diaklimatisasi di rumah kaca. Setelah tanaman beradaptasi dengan lingkungan rumah kaca kemudian diperbanyak untuk keperluan tanaman induk yang akan menghasilkan tanaman produksi.
Penting sekali untuk lingkungan tanamn induk tersebut harus heginis untuk mendapatkan eksplan yang berkualitas dan lebih bersih untuk pembiakan in-vintro.
Pengerjaannya dilakukan dalam ruang laminar agar terhindar dari kontaminan. Penanamannya dikelompokkan berdasarkan nomor ruas. Setiap botol diisi 5 eksplan dan diulang empat kali. Botol kultur selanjutnya diinkubasi dalam ruang pertumbuhan dengan pencahayaan 16 jam di bawah lampu fluoresen 40 watt, suhu 24-26 oC, dan kelembapan 60-80% hingga eksplan tumbuh menjadi planlet (tanaman hasil kultur jaringan yang telah lengkap memiliki bagian-bagian tanaman yang meliputi akar, batang, dan daun)

Cara Sterilisasi Untuk Tanaman Krisan
Mengambil eksplan yang telah diseleksi berdasarkan ketahanan vigor, hama penyakit, dan jumlah daun 4 - 5 helai atau 3 - 4 nodus.
Memotong eksplan per nodus dengan mengurangi atau memotong sebagian helai daun.
Eksplan direndam dalam larutan Benlatte dan Bactomicyn (fungisida dan bakterisida), masing-masing sebanyak 1 g/300 ml aquades sambil dikocok-jocok selama 30 menit.
Membilas eksplan dengan air aquadest sebanyak 4 - 5 kali.
Selanjutnya eksplan dibawa ke laminar.
Eksplan dimasukkan ke dalam larutan tween 2 tetes/100 ml aquades sambil dikocok-kocok selama 5 menit.
Eksplan dimasukkan ke dalam larutan Chlorox 0.5 % selama 5 menit sambil dikocok-kocok.
Selanjutnya eksplan dimasukkan ke dalam larutan Chlorox 1 % selama 3 menit sambil dikocok-kocok.
Eksplan dibilas dengan air destilasi sebanyak 5 - 6 kali.

Penanaman Eksplan Kegiatan dan Media Tanam
Penanaman eksplan ke dalam botol kultur disebut dengan inokulasi. Kegiatan ini dilakukan setelah eksplan disterilisasi, diawali dengan memotong bagian permukaan eksplan. Selanjutnya eksplan berupa nodus ditanam sebanyak dua buah dalam media ½ MS + IAA 0.5 mg/l, sedangkan eksplan berupa pucuk tidak perlu ditanam, cukup diletakkan saja pada media yang sama sebanyak 3 buah. Sebelum ditutup dengan plastik wrap, plastik transparan, dan karet, botol media yang telah ditanami terlebih dahulu dipanaskan di atas api bunsen. Selanjutnya botol diberi label jenis tanaman dan tanggal penanaman. Eksplan yang telah dikulturkan dibawa ke ruang inkubasi dan dibiarkan sampai tumbuh.

Multiplikasi
Cutting atau Multipikasi bertujuan untuk memperbanyak propagul sedangkan, Sub kultur adalah usaha untuk menggantikan media dalam kultur jaringan dengan media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan kalus dapat terpenuhi. Berikut ini adalah uraian tentang teknik pelaksaan sub kultur pada media padat. Dari media pertama, kultur dipindahkan ke media regerasi selama sekitar tiga minggu. Setelah itu, apabila kita bertujuan untuk memperbanyak propagul atau multifikasi,maka kita lakukan pemindahan media baru dan apabila tanamannya berbatang maka kita lakukan stek/ cutting contohnya pada tanaman krisan kita perbanyak dengan cara memotong perbuku. Atau per dua buku tergantung titik tumbuh daun, yang akan menjadi cabang baru.

Namun biasanya cuttig krisan dilakukan stelah tanamn tumbuh sempurna dan besar. Hal ini untuk memeudahkan perbanyakan, sehingga dapat memeprbanyak tanpa batas.

Tunas-tunas hasil perbanyakan di laboratorium kultur jaringan diseleksi untuk memperoleh tunas yang pertumbuhannya sehat, vigor baik, dan tidak menunjukkan gejala penyimpangan. Tunas terpilih kemudian dikeluarkan dari botol secara hati-hati dengan menggunakan pisau skalpel, kemudian dipotong tiap ruas/buku dari ruas 1 sampai 4. Pemotongan dilakukan di dalam petridis menggunakan pisau kultur. Bagian tanaman yang digunakan adalah pucuk atau ruas 1, 2, 3, dan 4. dan stelah itu dimasukan kedalam media sub kultur dengan media ½ MS + 0.5 IAA.Pembentukan akar umumnya dimulai dengan pemindahan indol acetic acid (IAA) yang diproduksi pucuk tanaman ke bagian batang yang luka untuk menstimulasi pembentukan akar (Brenner et al. 1987).

Setelah pomotongan, umumnya setek tidak sensitif terhadap hormon. Pada fase ini terjadi dediferensiasi, sel-sel menjadi kompeten dan responsif terhadap hormon. Setelah itu sel-sel aktif membelah (bersifat meristematik) diikuti dengan pembentukan primordia akar, pembentukan akar hingga akar tumbuh dan berkembang (De Klerk et al. 1999). Auksin umumnya berperan penting dalam inisiasi pembentukan akar. Peran auksin akan optimal bila faktor lingkungan juga optimal.

Aklimatisasi
Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.

Perubahan kondisi lingkungan yang drastis, dari lingkungan terkontrol ke tidak terkontrol, dari suhu relatif stabil ke suhu lingkungan yang fluktuatif, dari kelembapan tinggi ke rendah dan fluktuatif, dan dari cahaya rendah ke cahaya tinggi pada umumnya menyebabkan tanaman mudah mengalami cekaman atau stres, kehilangan air, layu, dan mati Oleh karena itu, proses aklimatisasi perlu dilakukan secara bertahap, seperti yang diterapkan Winarto (2002) pada anyelir. Aklimatisasi akan membantu tanaman beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya.
Metode aklimatisasi dibagi menjadi 2, yaitu metode langsung (direct) dan metode tidak langsung (indirect).
Metode langsung:
1.Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan planlet secara hati-hati dari dalam botol.
2.Membersihkan akar tanaman dari agar-agar yang masih melekat dengan air.
3.Merendam akar tanaman dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.
4.Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
5.Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.
6.Setelah 1 -2 minggu plastik dibuka dan tanaman dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam bak aklimatisasi hingga minggu ketiga sampai keempat.
7.Selanjutnya tanaman dipindahkan ke dalam polibag-polibag kecil sampai siap untuk di tanam di lapang.

Metode tidak langsung:
1.Menyiapkan planlet dalam botol yang akan diaklimatisasi dan mengeluarkan planlet secara hati-hati dari dalam botol
2.Memotong tanaman tepat pada bagian bawah nodus ketiga kemudian merendamnya dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 5 menit.
3.Menanam tanaman pada bak media arang sekam yang telah dibasahi.
4.Tutup bak dengan plastik transparan selam 1 - 2 minggu.

Aklimatisasi Planlet di Rumah Kaca Aklimatisasi merupakan tahap penting dalam proses kultur jaringan. Tahap ini sering kali menjadi titik kritis dalam aplikasi teknik kultur jaringan. Aklimatisasi diperlukan karena tanaman hasil kultur jaringan umumnya memiliki lapisan lilin tipis dan belum berkembang dengan baik, sel-sel dalam palisade belum berkembang maksimal, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang berkembang, dan stomata sering kali tidak berfungsi, yaitu tidak dapat menutup pada saat penguapan tinggi.
read more...